First Time Nonton Seminar Terbuka Disertasi

Januari ini, aku mengisi waktu liburan (menunggu jadwal FCP) dengan menghadiri seminar hasil skripsi teman-temanku. Menghadiri sekaligus menjadi asisten, jadi operator presentasi dan membantu mencatatkan saran dan kritik dari para penguji. Alhamdulillah keduanya lulus. Semangat yah kawan-kawan revisinya!

Nah, siang hari ini, setelah menonton seminar skripsi temanku, aku diajak abah untuk menonton sidang promosi doktor ke-29 untuk program doktor ilmu manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bengkulu.

Wah asik juga pengalaman baru. Seminarnya di rektorat, ruang seminar lantai 2 yang biasa kudatangi kalau ada seminar-seminar umum. Tapi ternyata sidang terbuka pertama sudah selesai, dan seminar selanjutnya baru dilangsungkan jam 2 nanti.

Sambil nunggu, aku diajak Abah untuk menikmati jamuan dari peserta sidang. Ternyata, orang-orang yang sidang disertasi menyewa katering untuk para undangan. Makan siang gratis yey 😀 Ruangan makannya bukan di ruang sidang seperti saat sidang skripsi (tapi kalau sidang skripsi cuma kue kotak doang, ga pake prasmanan). Agak ngiler liat menunya. Ah pokoknya kenyang deh.

Prasmanan

Aku dikenalkan dengan ibu Henni, yang akan sidang hari itu. Ternyata seorang dosen dengan latar belakang kesehatan masyarakat. Aku mengenalkan diri juga sebagai mahasiswa yang mau koas fufufu dan sesekali nyambi sebagai penerjemah dan penulis lepas.

Karena seminarnya baru jam 2, abah pamit sholat Jumat dulu. Aku juga ikutan beli kopi, ngantuk bro.

Jam 2 kurang, aku dan abah balik lagi ke ruang seminar di Rektorat. Kali ini spanduknya sudah ganti. Lalu Bu Heni juga sudah rapi pake jas.

Aku dan abah masing-masing dikasih air putih dan buku kecil berisi disertasi versi singkat (karena naskah jadinya sekitar 300an halaman haha).

Judul disertasinya : MODEL MANAJEMEN PUSKESMAS SEBAGAI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DI KOTA BENGKULU.

Kupikir aku akan mengerti, tapi ternyata tidak, hehe. Karena yang diteliti itu segi manajemennya dan bukan cuma dalam satu puskesmas doang.

Acara dimulai, para penonton seminar terbuka diminta berdiri dan kemudian penguji masuk. Wah spesial sekali. Pengujinya ada 7. Banyak banget. Dan semuanya adalah orang yang ahli. Gelarnya saja panjang-panjang, hehe.

Ruang seminar disertasi
Bu henni sedang memaparkan hasil disertasinya

Pas awal seminar, yang memaparkan pengantar itu pembimbing utamanya gitu. Setelah selesai memaparkan, barulah Bu Henni yang memaparkan hasilnya sendiri. Cuma dikasih waktu sebentar, 15 menit saja. Itupun kena stop.

Wah, begini ya yang namanya seminar disertasi.

Sesi dilanjutkan dengan pertanyaan dari penguji. Sesi yang paling mendebarkan. Aku yang menyaksikan juga ikut berdebar. Kalau kata Abah, seharusnya di sidang terbuka pertanyaannya tidak sebanyak sidang tertutup.

Long story short, sesi itu akhirnya selesai juga, dan Bu Heni akhirnya di beri gelar doktor. Oh ya, pas sesi ini, suaminya dipanggil juga untuk maju kedepan. Wah, istrinya doktor, suaminya ikut doktor juga (yang ini kata abah, hehe). Kemudian semua yang pake baju merah seragam, maju kedepan. Rupanya pendukung dari tempat bu Henni bekerja.

Kami pamit undur diri tak lama setelah itu. Saat menuju mobil, aku bertanya ke abah, “kapan abah seminar?”

XD

17 thoughts on “First Time Nonton Seminar Terbuka Disertasi

  1. Pingback: [Abstrak] Tidur dan Olahraga yang Tidak Adekuat Berhubungan dengan Burnout dan Depresi diantara Mahasiswa Kedokteran - Studi Medis

  2. artha Reply

    judulnya cetar, saya geleng2. hihi. eh kalau yg diuji dapat gelar doktor, yg nguji gelarnya apa ya? lebih panjang lg yaaa

    • admin Post authorReply

      iya banget kak, namanya dan gelarnya panjang-panjang, lebih dari 3

  3. Muhammad Rifqi Saifudin Reply

    Belum pernah menonton seminar skripsi, thesis, apalagi disertasi. Jadi penasaran bagaimana suasana di dalam. Kalau skripsi itu lebih banyak dipaparkan oleh mahasiswa ya? Atau seperti apa? Berbeda dengan disertasi yang tadi katanya calon doktor cuma diberi 15 menit.

    • admin Post authorReply

      Skripsi juga dibatasi waktu pemaparannya. Di kampusku cuma sekitar 20 menit. Pas seminar terbuka ini cuma diberi sedikit waktu karena sudah dipaparkan oleh promotor.

  4. Irwan Reply

    Jadi pengen sesekali ikut nonton seminar terbuka disertasi. Pastinya suasananya berbeda ketika dulu mendapatkan gelar S1 kali ya. Nah, terlebih utk mendapatkan gelar doktor, pengujinya pun keliatan serius banget. Eh, tetiba saya kok jadi fokus sama foto menunya kak. ha

    • admin Post authorReply

      iya bang, berbeda banget. Apalagi karena untuk seminar terbuka ini boleh mengundang penonton dan orang-orang tercinta (kapasitas ruangannya buat 200 orang hehe).

      Iya saya juga salfok dengan menunya, pengen nonton juga karena diiming-imingi makanan gratis hehe

  5. Richa Miskiyya Reply

    Kalo setahuku untuk seminar terbuka itu cuma formalitas (semacam pesta syukurannya juga), karena ‘pembantaian’ dari penguji ada di sidang tertutup.
    Kata dosenku dulu, seminar terbuka itu ngeluarin banyak duit, kayak orang mau pesta nikahan, secara harus nyewa catering gitu. Dulu dosenku cerita habis lebih dari 50 juta. Kami mahasiswa cuma melongo

    • admin Post authorReply

      Yap, benar banget mba. tapi yang disidang agak kena bantai juga sepengelihatan saya di ruangan.
      Buat budget, iya kayaknya besar banget. Satu disertasi aja 300 halaman, jadi biaya cetak saja perkiraan saya sudah lebih 500ribu. Belum lagi katering dan lain-lain. Pengorbanan buat dapat gelarnya besar banget ya

  6. Bambang Irwanto Reply

    Saya belum pernah nonton seminar terbuka Disertasi, Mbak Fira. Pastinya para peserta deg-degan ya, Mbak. Para pengujinya banyak. Apalagi disaksikan banyak orang juga. Tapi terbantu dengan prasmanan yang mengundang selera itu, Mbak hehehe.

    • admin Post authorReply

      Prasmanan sama ruangan sidangnya dipisah bang, jadi lumayanlah tidak terdistraksi. Jadi peserta sidang memang harus punya keberanian yang besar. Apalagi yang dipertanggung jawabkan adalah pekerjaan yang sudah lama dikerjakan

  7. Efri Deplin Reply

    Subhanallah belajar sepanjang hayat di mana saja kapan saja dan dalam situasi apa saja, beruntungnya yang selalu tidak puas dengan ilmu yang sudah di dapat dengan mencari secara terus menerus untuk mengasah diri dan kemampuan. Yang saya tangkap dari Bu Dokter ini deh. Salute

  8. Kornelius ginting Reply

    Menarik ya melihat orang yang masih semangat menempuh ilmu baru…meskioun usianya tidak terbilang muda lagi… sebagai orang muda jadi tertantang… apakah untuk ambil bagian lagi (sekolah lagi) atau tetap di zona nyaman

  9. Akarui Cha Reply

    Hahaha, baca ini, aku seperti menemukan diriku sendiri beberapa tahun lalu.

    Habis menemani Papi lihat seminar doktoral temannya di IPB, aku bertanya hal yang sama. Lalu kami janjian, aku lulus SMA, Papi lulus doktoral. Walau akhirnya Papiku baru kelar setahun kemudian saat aku sudah jadi mahasiswi.

    Seru ya. Jadi nambah pengetahuan baru.

  10. Putu Sukartini Reply

    Wah pastinya jadi pengalaman menarik ya bisa lihat langsung prosesnya
    Menjadi doktor tentunya tak mudah, ada perjalanan panjang dan tanggung jawab yang lebih besar atas gelar itu

  11. Eni Rahayu Reply

    Luar biasa ya suami istri bisa punya gelar doctor. Saya belum pernah ikut masuk ke sidang desertasi tapi pernah mendengar cerita dari teman saya dan dia tuh katanya kayak dihujani pertanyaan yang super sulit. Tapi karena itu penelitiannya sendiri jadi bisa menjawab. Hehehe. Wow, ada jamuannya juga ya, sama aja di semua universitas kayaknya ya, di Malang juga gitu di beberapa universitas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *